Mungkin kita masih ingat tema
yang diangkat dalam rangka memperingati hari jadi Jakarta yang ke-485 beberapa
waktu yang lalu. Tema yang berbunyi, “Jakartaku, Harapanku.” Seakan mencoba
untuk membangunkan kembali mimpi-mimpi warganya yang sempat tertidur.
“If you can make it here, you can make it anywhere.”
(Alicia Keys – Empire State of
Mind Part II)
Kutipan lirik lagu tersebut boleh
jadi bukan tentang Jakarta. Namun kalimat tersebut seolah menggambarkan apa
yang ada di sanubari terdalam setiap warga Jakarta. Berjuang keras untuk lebih dari sekedar
bertahan hidup. Berjuang dengan segala usaha untuk menjadi yang terbaik dari
yang terbaik.
Amerika punya American Dream. Indonesia pun punya hal
yang sama. Mimpi-mimpi yang dikubur di sebuah kota bernama Jakarta. Banyak
mimpi yang tumbuh menjadi pohon kesuksesan. Namun banyak pula mimpi yang pada akhirnya
tidak berbuah, kandas menjadi sekedar angan-angan.
“Tempatku tuju segala angan dan harapan
tempat ku padu cita-cita dan impian
tempat ku tuju setiap langkah yang berarti
tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu.”
tempat ku padu cita-cita dan impian
tempat ku tuju setiap langkah yang berarti
tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu.”
(Andien – Gemilang)
Andien pun seolah menggambarkan Jakarta
melalui kata-kata. Gemilang, segemilang harapan-harapan baru yang diterbangkan
ke langit Jakarta setiap pagi. Harapan-harapan yang berdesakan dalam kemacetan,
saling mendahului untuk menjadi yang terdepan.
Akhirnya semua pun menjadi
simpang siur. Tumpang tindih permasalahan yang dibungkus dalam karung yang
bertuliskan “Emangnya manage Jakarta gampang?” Orang-orang yang lelah dengan
janji surga pun berduyun-duyun memborong kacamata skeptis. “Ah, Jakarta mah udah hopeless.”
“We found love in a hopeless place.”
(Rihanna feat. Calvin Harris – We
Found Love)
Akan tetapi, terkadang kita lupa.
Ketika kita berhenti berharap dan melapangkan dada untuk menerima keadaan, di
saat itulah cinta datang mengetuk. Buka pintunya dan bersiaplah mendapat
kejutan. Kelebihan berubah menjadi keistimewaan, kekurangan berubah menjadi
warna kehidupan. Begitulah hakikatnya cinta, bukan?
Dan konon cinta itu beda-beda
tipis dengan benci. Maka tak heran kita pun sering mencaci. Yang membedakannya
dengan benci adalah, cinta memiliki keinginan untuk memberi. Keinginan yang
menjadikan kita 1 dari kurang lebih 6.962.348 harapan yang singgah di TPS tadi
pagi. Sekaligus membuktikan klaim cinta kita terhadap kota ini.
Ada yang mempersatukan, ada yang
menjanjikan pembaharuan. Kepada siapapun pilihan kita jatuh, jangan jadikan ia
jurang yang memisahkan kita dengan yang lain pilihan. Terima perbedaan sebagai cara
mengenal diri sendiri melalui diri orang lain. Untuk akhirnya menang sebagai
kawan, dan bukan kalah sebagai lawan.
Lupakan segala kontroversi dan
redam segala provokasi. Toh hati
nurani akhirnya sudah memilih. Masing-masing memiliki kelebihan, masing-masing
memiliki kekurangan, dan pastinya masing-masing memiliki niat baik untuk memajukan
Jakarta.
Suara kita lah yang menentukan
siapa yang akhirnya akan melenggang sebagai pemenang. Suara kita yang
kelingkingnya sudah tercelup tinta, maupun suara kita yang enggan mencoblos
karena menganggap satu suara tidak ada artinya. Ingat, Rp999.999 belum dapat
menjadi Rp1.000.000 dengan bantuan 2 daun pepaya. Ia masih butuh Rp1. Analogi yang
sekiranya tepat untuk menggambarkan bahwa satu suara pun bisa membawa
perubahan.
Sekarang marilah kita berterima
kasih. Bukan kepada pemerintah, bukan kepada bibi di rumah, melainkan kepada
diri kita sendiri. Berterima kasih karena partisipasi kita telah menyulut api
yang menyalakan kembali susunan lampion yang bertuliskan “harapan itu masih ada”.
Harapan dari setiap warga, untuk masa depan Jakarta.