Rabu, 19 September 2012

Harapan Itu Masih Ada


Mungkin kita masih ingat tema yang diangkat dalam rangka memperingati hari jadi Jakarta yang ke-485 beberapa waktu yang lalu. Tema yang berbunyi, “Jakartaku, Harapanku.” Seakan mencoba untuk membangunkan kembali mimpi-mimpi warganya yang sempat tertidur.

“If you can make it here, you can make it anywhere.”
(Alicia Keys – Empire State of Mind Part II)

Kutipan lirik lagu tersebut boleh jadi bukan tentang Jakarta. Namun kalimat tersebut seolah menggambarkan apa yang ada di sanubari terdalam setiap warga Jakarta.  Berjuang keras untuk lebih dari sekedar bertahan hidup. Berjuang dengan segala usaha untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.

Amerika punya American Dream. Indonesia pun punya hal yang sama. Mimpi-mimpi yang dikubur di sebuah kota bernama Jakarta. Banyak mimpi yang tumbuh menjadi pohon kesuksesan. Namun banyak pula mimpi yang pada akhirnya tidak berbuah, kandas menjadi sekedar angan-angan.

“Tempatku tuju segala angan dan harapan
tempat ku padu cita-cita dan impian
tempat ku tuju setiap langkah yang berarti
tetap menyatu dalam hasrat dan tujuanku selalu.”
(Andien – Gemilang)

Andien pun seolah menggambarkan Jakarta melalui kata-kata. Gemilang, segemilang harapan-harapan baru yang diterbangkan ke langit Jakarta setiap pagi. Harapan-harapan yang berdesakan dalam kemacetan, saling mendahului untuk menjadi yang terdepan.

Akhirnya semua pun menjadi simpang siur. Tumpang tindih permasalahan yang dibungkus dalam karung yang bertuliskan “Emangnya manage Jakarta gampang?” Orang-orang yang lelah dengan janji surga pun berduyun-duyun memborong kacamata skeptis. “Ah, Jakarta mah udah hopeless.”

“We found love in a hopeless place.”
(Rihanna feat. Calvin Harris – We Found Love)

Akan tetapi, terkadang kita lupa. Ketika kita berhenti berharap dan melapangkan dada untuk menerima keadaan, di saat itulah cinta datang mengetuk. Buka pintunya dan bersiaplah mendapat kejutan. Kelebihan berubah menjadi keistimewaan, kekurangan berubah menjadi warna kehidupan. Begitulah hakikatnya cinta, bukan?

Dan konon cinta itu beda-beda tipis dengan benci. Maka tak heran kita pun sering mencaci. Yang membedakannya dengan benci adalah, cinta memiliki keinginan untuk memberi. Keinginan yang menjadikan kita 1 dari kurang lebih 6.962.348 harapan yang singgah di TPS tadi pagi. Sekaligus membuktikan klaim cinta kita terhadap kota ini.

Ada yang mempersatukan, ada yang menjanjikan pembaharuan. Kepada siapapun pilihan kita jatuh, jangan jadikan ia jurang yang memisahkan kita dengan yang lain pilihan. Terima perbedaan sebagai cara mengenal diri sendiri melalui diri orang lain. Untuk akhirnya menang sebagai kawan, dan bukan kalah sebagai lawan.

Lupakan segala kontroversi dan redam segala provokasi. Toh hati nurani akhirnya sudah memilih. Masing-masing memiliki kelebihan, masing-masing memiliki kekurangan, dan pastinya masing-masing memiliki niat baik untuk memajukan Jakarta.

Suara kita lah yang menentukan siapa yang akhirnya akan melenggang sebagai pemenang. Suara kita yang kelingkingnya sudah tercelup tinta, maupun suara kita yang enggan mencoblos karena menganggap satu suara tidak ada artinya. Ingat, Rp999.999 belum dapat menjadi Rp1.000.000 dengan bantuan 2 daun pepaya. Ia masih butuh Rp1. Analogi yang sekiranya tepat untuk menggambarkan bahwa satu suara pun bisa membawa perubahan.

Sekarang marilah kita berterima kasih. Bukan kepada pemerintah, bukan kepada bibi di rumah, melainkan kepada diri kita sendiri. Berterima kasih karena partisipasi kita telah menyulut api yang menyalakan kembali susunan lampion yang bertuliskan “harapan itu masih ada”. Harapan dari setiap warga, untuk masa depan Jakarta.

Rabu, 12 September 2012

I LOVE/HATE JAKARTA (?)

Kata orang, hidup di Jakarta itu tua di jalan. Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh dalam waktu 10 sampai 15 menit, ternyata memakan waktu dua jam, bahkan lebih. Ukuran normal pun berubah. Dan kita pun pasti punya ukuran masing-masing dalam hal estimasi waktu agar dapat sampai di kantor tepat waktu, tidak terlambat saat meeting, atau pun agar pasangan nggak marah karena kita terlambat menjemput. 

Semuanya sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Macet ibarat nafasnya orang Jakarta. Capek? Sudah pasti. Kesel? Setiap hari. Marah? Sering. Namun apakah semuanya dapat mengurangi kemacetan dan dalam sekejap membuat Jakarta menjadi kota dengan lalu lintas yang teratur? Jawabannya tentu saja tidak. Dan yang bisa kita lakukan adalah mensyukuri dan menikmati kenyataan dengan cara-cara yang kita miliki. Karena seperti kata pepatah, life isn’t about waiting for the storm to pass, it’s about learning to dance in the rain.

Tulisan ini pun ditujukan untuk hal itu. Kita akan mencoba untuk melihat kemacetan dari kacamata yang berbeda. Jika selama ini kita selalu melihat kemacetan dengan kacamata minus, kali ini kita akan mencoba untuk melihatnya dengan kacamata hitam. Kacamata yang lebih positif, santai, dan bahagia.

Pertanyaan berikutnya adalah, gimana bisa positif, santai, atau bahagia jika kenyataannya kemacetan selalu membuat kita naik darah setiap hari? Kuncinya adalah bagaimana kita bersyukur dan percaya bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian, termasuk di balik kemacetan.

Hikmah pertama: Menikmati musik.
Mari kita hitung berapa rupiah yang sudah kita keluarkan untuk membeli koleksi CD kita (pastinya CD asli ya, bukan bajakan). Atau mungkin berapa banyak hutang yang harus kita bayar kepada bank karena menggesek kartu kredit untuk membeli lagu yang akhirnya terputar di iPod kita. Dengan adanya kemacetan, artinya kita mempunyai waktu lebih untuk menikmati koleksi musik yang kita miliki. Bahkan sampai hapal liriknya!

Hikmah kedua: Ngobrol.
Terjebak di dalam mobil berjam-jam tentunya akan jadi tidak terasa jika ada orang lain yang bersama kita di dalam mobil yang sama. Karena kita akan menghabiskan waktu untuk ngobrol ngalor ngidul. Dan untuk yang lagi galau, momen ini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk curhat. 

Hikmah ketiga: Introspeksi diri.
Jika kasusnya adalah kita terjebak macet sendirian, maka kita tidak mempunyai pilihan lain selain diam atau bernyanyi (bukan main handphone!). Namun selain kedua hal tersebut, sebenarnya kita juga bisa memanfaatkan momen ini untuk merenung, introspeksi diri, atau memikirkan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Tapi hati-hati, jangan ngelamun, nanti nabrak mobil depan atau masih berhenti padahal mobil-mobil lain sudah jalan.
 
Hikmah keempat: Tidur.
Daripada sibuk mengumpat, sebenarnya kita bisa menggunakan waktu kita yg terbuang berjam-jam di jalan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, yaitu tidur. Membayar waktu tidur malam kita yang terpotong karena lembur atau terlalu banyak agenda bergaul. 

Hal ini bisa dilakukan jika kita menggunakan kendaraan umum, dengan tetap waspada terhadap barang bawaan kita pastinya. Atau jika menggunakan mobil pribadi, berarti kondisinya adalah harus ada orang lain yang mengemudikan mobil kita. Jika yang mengemudi adalah pasangan atau sahabat kita, maka pastikan kita sudah memberitahu mereka bahwa kita akan tidur. Karena jika tidak, hal ini berpotensi untuk menyinggung perasaan. Disangka supir kali!

Hikmah kelima: Dandan.
Untuk orang-orang dengan aktivitas sehari-hari yang padat dan mobilitas yang tinggi, macet akan sangat berguna untuk dandan atau ganti baju. untuk yang kedua, pastikan kita tidak sedang di dalam kendaraan umum, atau di dalam mobil dengan kaca yang terang benderang, karena berpotensi mengganggu ketertiban umum. 

Selain yang sudah disebutkan, pastinya masih banyak hikmah atau cara lain yang bisa kita ambil atau gunakan untuk menikmati rutinitas kita ini. Apapun itu, semuanya kembali lagi ke pilihan kita masing-masing. Because life is about choosing, right? Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan untuk kita ambil, mulai dari memilih menu makan siang, memilih baju untuk ngedate, hingga memilih untuk terkena macet itu sendiri. Dimana sebenarnya kita pun bisa memilih untuk tidak terkena macet yaitu dengan pulang kantor lebih malam, lewat jalan tikus, atau mungkin naik ojek.

Akan tetapi, kita lah yg memilih untuk hidup dengan kemacetan. Kita lah yang memilih untuk hidup di Jakarta di saat sebenarnya kita punya pilihan untuk pergi. Lalu apa yang membuat kita memutuskan untuk tetap tinggal?  Jawabannya adalah cinta. Cinta terhadap rumah kita. Cinta terhadap ladang penghidupan kita. Cinta terhadap taman bermain kita. 

Cinta kita untuk Jakarta, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.