Rabu, 03 November 2010

Klitoris, Locus, Satelit

Locus: Kenko Reflexology, Dharmawangsa Square. Tempus: Sekitar jam 5 sore. Singkat cerita, memanjakan diri menjadi harga mati. Pilihan tepat jatuh pada jari-jari peraba yang seketika memusnahkan tabungan lelah perjalanan pulang pergi selama tiga hari dari dan ke salah satu kota satelit dari Jakarta, yaitu Bekasi.

Singkat cerita, lagi, saya disetubuhi. Jari-jari nakal yang menyihir mentah-mentah setiap lekukan. Klitoris-klitoris hasil penjelmaan yang membuat sesi pijat 60 menit ini sangat tidak termaafkan.

Teringat sebuah ungkapan lama. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Sebuah peribahasa yang niscaya tepat guna. Mengingat rasa lelah yang dengan sukses memporak porandakan segala suasana. Tentunya suasana hati yang juga termasuk di dalamnya.

Bayangkan ketika telinga mendengar setiap tawa sebagai makian. Ketika lidah mengecap setiap kata-kata manis sebagai kepalsuan. Ketika hidung mengendus setiap saran sebagai genderang permusuhan. Dan ketika mata melihat setiap ketulusan sebagai manifestasi kemunafikan. Bayangkan kehancuran, dari sebuah hati yang terlalu terbawa perasaan.

Kiranya warna merah jambu kurang pantas menjadi sebuah penggambaran. Ia merah darah, membara, menyala. Hasil dari entah berapa potongan kecil tubuh termutilasi yang berakhir di kandang anjing, tertebas pisau dapur istri berbakti pada suami. Analogi yang pada akhirnya menyelewengkan semua norma, bahwa mencintai bukan tidak mungkin berakhir memusuhi.

“Ah, cinta itu beda tipis sama benci,” gumam mulut yang berbalut putih abu-abu. Sebatang rokok di tangan, berjongkok-jongkok di belakang halaman. Hati yang marah mungkin berkata, “tahu apa kamu, kecil-kecil bajingan?” Namun pubis anak ini sudah cukup dilebati untuk mengerti. Atau setidaknya akan benar-benar mengerti, lima hingga sepuluh tahun lagi.

Ya. Cinta itu beda tipis sama benci, namun tidak lebih tipis dari angka korupsi. Seakan nyata, namun tiada. Seolah tiada, namun ia fakta. Bukankah kita sudah cukup hidup di bawah ancaman? Terlebih untuk mengetahui bahwa ada hukuman seumur hidup yang sewaktu-waktu siap dijatuhkan, perkawinan silang antara cinta dan permusuhan.

Teringat ucapan seorang teman. “Kita kadang-kadang suka lupa bahwa orang yang paling deket sama kita adalah orang yang paling sensitif,” singkat seorang raja drama berujar. Penjelasan yang membuat sebuah merk test-pack menjadi terdefinisi. Keterikatan emosional yang dilahirkan satu atau dua garis beberapa saat setelah berhubungan, yang segera akan diluapkan menjadi kabar bahagia untuk yang baru pulang kantor, atau satu bayi lagi yang cepat atau lambat berakhir di pembuangan.

Ibarat Agustus yang datang terlalu awal, cinta dan benci sedang asik bermain tarik tambang. Terikat tali penyambung emosi yang membuat satu pihak kelak harus terkalahkan. Hingga kiamat ketujuh pun takkan pernah membuat mereka jalan beriringan.

Akan tetapi, alangkah bodohnya ciptaan Tuhan, jika ia tidak tahu cara mengendalikan sebuah kepemilikan. Peduli setan dengan kursus menyetir dijamin cepat bisa dengan iklan murahan di gang-gang dan perempatan. Hati bebas dari intervensi Tuhan dan setan. Tuhannya adalah otak yang mengendalikan. Setannya adalah panca indera yang dilanda kebebasan pers, lengkap dengan simpang siurnya pemberitaan. Namun bukankah orang beriman seharusnya percaya Tuhan? Tuhan menciptakan manusia, otak menciptakan suasana hati. Analogi yang sebaiknya diimani khusus untuk hal yang satu ini.

Berarti, kuncinya ada pada pengendalian diri. Pengendalian diri berarti bicara berhati-hati. Pengendalian diri berarti mendengar sindiran cukup dengan telinga kiri. Pengendalian diri berarti mengubur setengah bagian dari ekspektasi. Pengendalian diri berarti tahu kapan berhenti untuk berekstasi.

Karena hidup bukan semata kenikmatan amphetamine. Dan hidup bukan pula sepahit kopi luwak over-priced yang ada di PI. Hidup adalah dua Korea dengan demiliterisasi. Cinta dan benci yang tidak saling mengalahkan, namun berjalan beriringan.

Sebuah PR tengah malam buta dari tiga orang sahabat yang dikerjakan terlambat :)

Selasa, 02 November 2010

An End Right Before A New Chapter

Bertempat di sebuah restoran pizza cepat saji. Kejadiannya malam. Lebih tepatnya mendekati tengah malam. Saya sedang duduk bersama dua orang teman. Pembicaraan mengalir. Satu per satu angkat bicara dan bersambut tawa. Berulang-ulang pola yang sama.

Ibarat sebuah scene film, kamera akan menyorot tiga pemain berganti-ganti. Satu ekspresi bercerita. Satu ekspresi menyimak. Satu ekspresi tawa. Terus- menerus hingga kamera terhenti pada satu tokoh yang kemudian matanya terbelalak.

“Lo harus mulai nulis lagi.” Kalimat inilah yang menyebabkan sang tokoh kemudian terbelalak. Untuk menjelaskan bahwa bukan makanan lah yang membuatnya tersedak.

Ya. Tokoh over-exposed tersebut adalah saya. Dan kalimat “lo harus mulai nulis lagi” ini keluar dari mulut seorang teman, yang kebetulan tanggal dan bulan lahirnya sama dengan saya, yang kebetulan kami punya banyak makanan kesukaan yang sama, yang kebetulan kami punya banyak kebetulan yang berujung pada kesamaan lainnya, dan dalam hal ini, kebetulan tersebut bernama Menulis.

Saya tidak tahu bagi teman saya tersebut apa, namun bagi saya, menulis adalah berbicara. Menulis adalah melukis. Menulis adalah bermain sepakbola. Menulis adalah tata surya. Menulis adalah mengisi formulir lamaran kerja. Menulis adalah tukang jagal yang alih profesi jadi juru rawat. Menulis adalah… semua ketidak teraturan dan kesembarangan yang tampak di permukaan, yang saat kita selami akan berubah menjadi rangkaian cerita bernama Kehidupan. Dimana kita tidak pernah sadar kapan dimulainya, dan tidak akan pernah tahu kapan berakhirnya.

Sama halnya dengan percintaan, bukan? Kita tidak pernah sadar kapan dimulainya, dan tidak akan pernah bisa memprediksi kapan lonceng pulang sekolah terakhirnya berbunyi. When suddenly, the class is dismissed! Namun sudahlah. Toh pada akhirnya kita semua akan sendirian, kan? Lengkap dengan celah sempit beberapa meter di bawah permukaan tanah. The ugliest truth we all mankind have to face.

Akan tetapi, jika sekali lagi hidup, atau dalam hal ini percintaan, diibaratkan menjadi sebuah film, maka kita bukanlah penonton yang baik jika hanya ending-nya saja yang kita ingat. Lalu kemana larinya Menara Eiffel yang tersorot dari jendela kamar dengan tirai yang terkibar? Kemana larinya perkelahian di bar yang berakhir dengan kebakaran? Kemana larinya bom mobil yang silih berganti meledak di malam Baghdad? Kemana larinya mereka semua? Kemana larinya rintilan-printilan yang mengkonstruksikan sekaligus mengantarkan kita pada bagian akhir cerita?

Jawabannya mudah. Yang tertinggal adalah yang membekas. Kecupan hanya akan menempelkan gincu yang mudah tersapu, namun tidak halnya dengan sabetan pisau. Ia adalah luka, dan ia meninggalkan jejak disana. Singkatnya, bagi kita keburukan adalah mie instan. Mengenyangkan, awet, dan mudah untuk disimpan. Namun kebaikan, bagi kita adalah opor ayam. Occasional, cepat basi, harus cepat dihabiskan. Another ugly truth we all mankind have to face.

Akan tetapi, hidup bukan ilmu pasti. Teori ini pun bukan harga mati. Selama kita bisa tidur-tidur ayam di Jakarta, terlambat bangun di Bogota, dan makan burrito di Havana, maka semuanya masih bisa berubah. Selama, sekali lagi, kita belum terbaring di celah sempit beberapa meter di bawah permukaan tanah, maka saat membaca tulisan ini, film kita belum sampai pada akhir ceritanya. Ini adalah turning point pasca konflik, dimana matahari akan segera tenggelam di Jalur Gaza yang penuh prahara, untuk kemudian terbit di ufuk Bali lengkap dengan pantai perawannya.

Akankah lebih lengkap jika kita tidak melupakan bagian-bagian indahnya? Tsar yang berakhir di tangan proletar boleh jadi lebih membekas daripada romantisme Novoye Mischeleniye. Sakit hati diselingkuhi boleh jadi lebih membekas daripada orang yang menunggu berjam-jam di ujung jalan hanya untuk melihat kita berjalan keluar dari rumah kurang dari semenit. Bad things over good things. Tanpa disadari sebenarnya keduanya ada untuk saling melengkapi, bukan untuk mendominasi.

Berhubung hati kita bukan pesakitan, jadi jangan biarkan ia didominasi. Sakit hati hanyalah pintu menuju saatnya kembali jatuh hati. Dengan sakit hati lah kita dapat lebih menikmati rasanya jatuh hati. Dengan nikmatnya jatuh hati lah kita dapat merasakan sakit hati di kemudian hari. Balance of life.

Karena hidup adalah klausa sebab akibat. Where one thing leads to another. When an end leads to a new chapter. Before finally, the whole chapters will be ended, forever.

Kado ulang tahun yang terlalu dini 17 hari :)