Bertempat di sebuah restoran pizza cepat saji. Kejadiannya malam. Lebih tepatnya mendekati tengah malam. Saya sedang duduk bersama dua orang teman. Pembicaraan mengalir. Satu per satu angkat bicara dan bersambut tawa. Berulang-ulang pola yang sama.
Ibarat sebuah scene film, kamera akan menyorot tiga pemain berganti-ganti. Satu ekspresi bercerita. Satu ekspresi menyimak. Satu ekspresi tawa. Terus- menerus hingga kamera terhenti pada satu tokoh yang kemudian matanya terbelalak.
“Lo harus mulai nulis lagi.” Kalimat inilah yang menyebabkan sang tokoh kemudian terbelalak. Untuk menjelaskan bahwa bukan makanan lah yang membuatnya tersedak.
Ya. Tokoh over-exposed tersebut adalah saya. Dan kalimat “lo harus mulai nulis lagi” ini keluar dari mulut seorang teman, yang kebetulan tanggal dan bulan lahirnya sama dengan saya, yang kebetulan kami punya banyak makanan kesukaan yang sama, yang kebetulan kami punya banyak kebetulan yang berujung pada kesamaan lainnya, dan dalam hal ini, kebetulan tersebut bernama Menulis.
Saya tidak tahu bagi teman saya tersebut apa, namun bagi saya, menulis adalah berbicara. Menulis adalah melukis. Menulis adalah bermain sepakbola. Menulis adalah tata surya. Menulis adalah mengisi formulir lamaran kerja. Menulis adalah tukang jagal yang alih profesi jadi juru rawat. Menulis adalah… semua ketidak teraturan dan kesembarangan yang tampak di permukaan, yang saat kita selami akan berubah menjadi rangkaian cerita bernama Kehidupan. Dimana kita tidak pernah sadar kapan dimulainya, dan tidak akan pernah tahu kapan berakhirnya.
Sama halnya dengan percintaan, bukan? Kita tidak pernah sadar kapan dimulainya, dan tidak akan pernah bisa memprediksi kapan lonceng pulang sekolah terakhirnya berbunyi. When suddenly, the class is dismissed! Namun sudahlah. Toh pada akhirnya kita semua akan sendirian, kan? Lengkap dengan celah sempit beberapa meter di bawah permukaan tanah. The ugliest truth we all mankind have to face.
Akan tetapi, jika sekali lagi hidup, atau dalam hal ini percintaan, diibaratkan menjadi sebuah film, maka kita bukanlah penonton yang baik jika hanya ending-nya saja yang kita ingat. Lalu kemana larinya Menara Eiffel yang tersorot dari jendela kamar dengan tirai yang terkibar? Kemana larinya perkelahian di bar yang berakhir dengan kebakaran? Kemana larinya bom mobil yang silih berganti meledak di malam Baghdad? Kemana larinya mereka semua? Kemana larinya rintilan-printilan yang mengkonstruksikan sekaligus mengantarkan kita pada bagian akhir cerita?
Jawabannya mudah. Yang tertinggal adalah yang membekas. Kecupan hanya akan menempelkan gincu yang mudah tersapu, namun tidak halnya dengan sabetan pisau. Ia adalah luka, dan ia meninggalkan jejak disana. Singkatnya, bagi kita keburukan adalah mie instan. Mengenyangkan, awet, dan mudah untuk disimpan. Namun kebaikan, bagi kita adalah opor ayam. Occasional, cepat basi, harus cepat dihabiskan. Another ugly truth we all mankind have to face.
Akan tetapi, hidup bukan ilmu pasti. Teori ini pun bukan harga mati. Selama kita bisa tidur-tidur ayam di Jakarta, terlambat bangun di Bogota, dan makan burrito di Havana, maka semuanya masih bisa berubah. Selama, sekali lagi, kita belum terbaring di celah sempit beberapa meter di bawah permukaan tanah, maka saat membaca tulisan ini, film kita belum sampai pada akhir ceritanya. Ini adalah turning point pasca konflik, dimana matahari akan segera tenggelam di Jalur Gaza yang penuh prahara, untuk kemudian terbit di ufuk Bali lengkap dengan pantai perawannya.
Akankah lebih lengkap jika kita tidak melupakan bagian-bagian indahnya? Tsar yang berakhir di tangan proletar boleh jadi lebih membekas daripada romantisme Novoye Mischeleniye. Sakit hati diselingkuhi boleh jadi lebih membekas daripada orang yang menunggu berjam-jam di ujung jalan hanya untuk melihat kita berjalan keluar dari rumah kurang dari semenit. Bad things over good things. Tanpa disadari sebenarnya keduanya ada untuk saling melengkapi, bukan untuk mendominasi.
Berhubung hati kita bukan pesakitan, jadi jangan biarkan ia didominasi. Sakit hati hanyalah pintu menuju saatnya kembali jatuh hati. Dengan sakit hati lah kita dapat lebih menikmati rasanya jatuh hati. Dengan nikmatnya jatuh hati lah kita dapat merasakan sakit hati di kemudian hari. Balance of life.
Karena hidup adalah klausa sebab akibat. Where one thing leads to another. When an end leads to a new chapter. Before finally, the whole chapters will be ended, forever.
Kado ulang tahun yang terlalu dini 17 hari :)
Selasa, 02 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar