Selasa, 15 Juni 2010

Keluhan Seorang Penderita Kebosanan Audio Akut

"Radio itu segmented". Kalimat yang selalu saya imani sejak awal berkecimpung di dunia ini. Pendengarnya bukan pirsawan televisi yang bisa seenak dengkul gonta-ganti. Mereka fanatik.

Silakan tonton "The Boat That Rocked". Mencengangkan bagaimana manusia dengan panca indra nya bisa didakwahi dengan
sepasang indra pendengaran saja. Tidak dengan melihat, tidak dengan meraba, apalagi dakwah berdarah.

Sepanjang perjalanannya, radio pun kerap kali menjadi simbol perlawanan. Propaganda, provokasi, revolusi, sejarah mencatat kelahirannya disini.

Akan tetapi, ketika uang menjadi alasan, semua seakan terlunturkan. Tidak ada lagi propaganda, tidak ada lagi provokasi, tidak ada lagi revolusi. Semua berlomba-lomba menjadi anak baik, bermain aman, tanpa tantangan.

Pilihan yang cukup dilematis memang. Menanggalkan idealisme demi materi, atau bertahan tanpa memakani diri sendiri. Patut disayangkan, kebanyakan memilih yang pertama.

Tidak ada yang patut disalahkan, karena teori yang lahir sebelumnya memang telah berhasil mengkotak-kotakkan. Ada radio komersial, ada radio komunitas. Nama lainnya adalah si kaya dan si miskin. Si kaya siaran murni untuk mencari keuntungan, si miskin siaran murni untuk mendapatkan kepuasan.

Kembali ke film "The Boat That Rocked". Berlatarkan Inggris yang kaku di tahun 1960-an, harus berkompromi dengan radio tanpa aturan yang disiarkan dari tengah lautan. Masa dimana rock and roll disejajarkan dengan agama, tanpa norma, dan berhasil memenangkan hati umatnya; pelayan restoran, mahasiswa, bahkan hingga rumah-rumah pelacuran. Tanpa batasan usia, ras, maupun kekayaan, semua khusyuk mendengarkan.

Kita ingat lagi lokasi radio ini disiarkan. Tengah lautan, sekali lagi, tengah lautan. Namun apa yang terjadi? Tanpa peduli dimana berandal-berandal ini siaran, pengiklan berbondong-bondong menyeberang lautan.

Indonesia pernah punya Prambors di 1980 dan 1990-an. Disusul Gen FM yang lahir di pertengahan 2000-an. Keduanya kemudian menjadi trendsetter di eranya. Melahirkan radio-radio lain yang melirik-lirik dan kemudian memplagiasi, dengan atau tanpa modifikasi.

Kebetulan saya nyemplung pada era kedua. Saat radio-radio berlomba memperirit durasi bicara, tidak lagi mengedukasi musik pendengarnya, dan menggantungkan diri pada lagu-lagu overrated
semata.

Ketiganya bukan favorit saya. Namun saya mengapresiasi GEN FM atas revolusi yang mereka lakukan. Bagaimanapun, radio ini lahir cukup cacat di masanya. Durasi bicara yang paling irit dibandingkan lainnya, tanpa edukasi musik bagi pendengarnya, dan menjual lagu-lagu overrated yang diludahi pesaing-pesaingnya. Suka atau tidak, ketiga hal inilah yang menjadi daya tarik bagi ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan pasang telinga untuk duduk manis dan tidak menggonta-ganti lagi salurannya.

Semoga bualan ini bisa menjadi pembelajaran. Sukses tidak akan menghampiri yang memplagiasi, dengan atau tanpa modifikasi. Mungkin mendekati, tapi tidak akan pernah menyamai. Prambors adalah Prambors di masanya dan dengan massanya. GEN FM adalah GEN FM di masanya dan dengan massanya. Dan akan ada radio lain lagi di masanya dan dengan massanya.

Karakter kuat adalah kuncinya. Berani berbeda adalah lubang kuncinya. Dan gebrakan adalah tangan yang akan membuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar