Selasa, 08 Juni 2010

Search: Etimologi Insomnia. No Results Found.

Jika kewajaran menjadi ukuran, maka seharusnya tidur dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari. Akan tetapi, bukan manusia namanya jika tidak keluar dari lingkup kewajaran. Beberapa memilih, atau mungkin terpaksa, untuk tidur pada saat pagi menjelang dan beraktivitas pada saat-saat tidur sewajarnya.

Awam dan medis menyebutnya Insomnia. Saya tentu saja salah satu penderitanya. Jika saya bukan salah satu penderita, tentu saja saya sedang di ambang tidur ketika bualan ini diterbitkan.

Mencoba untuk mengenali diri sendiri, iseng saya menjelajahi dunia maya. Mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi yang berkaitan dengan hal yang saya derita ini. Diawali dari sebuah halaman yang tampaknya memang bergenre medis, www.medicalera.com.

Kurang lebih inilah yang kemudian menjadi perhatian saya. Berikut saya kutip,

SEBAB-SEBAB INSOMNIA

Tidak semua insomnia didasari oleh adanya suatu kondisi psikopatologik. Insomnia dapat pula disebabkan karena kondisi atau penyakit fisik dan karena faktor ekstrinsik seperti suara atau
bunyi, suhu udara, tinggi suatu daerah, penggunaan bahan-bahan yang mengandung stimulansia susunan saraf pusat.

  1. Suara atau bunyi: biasanya orang dapat menyesuaikan dengan suara atau bunyi sehingga tidak mengganggu tidurnya. Yang penting sering bukan intensitasnya tetapi makna dan suara itu. Misalnya seorang yang takut diserang atau dirampok, pada malam hari ia terbangun berkali-kali hanya karena suara yang halus sekalipun. Bila intensitas rangsang cukup tinggi maka Arousal Promoting System akan membangunkan kita.
  2. ...*
Voila! Belum jauh menjelajah, mata saya sudah menemukan jawabannya. Serupa tapi tak sama, namun tampaknya inilah sebab mengapa kebiasaan tidur saya jauh dari kewajaran.

Masa kecil yang kurang lebih membiasakan saya untuk selalu berinteraksi dengan suara, sehingga hal ini terbawa selama lebih dari 21 tahun hidup saya. Bagi saya, comfort zone adalah ketika ada suara di sekitar, untuk secara psikologis menegaskan bahwa saya tidak sendirian. Semakin berisik, semakin asik.

Saya tidak suka sendirian. Saya tidak suka keheningan. Turunannya adalah, saya tidak suka malam. Karena malam berarti harus sendirian dan berada dalam keheningan. Beruntunglah ada peralatan yang menghasilkan bunyi-bunyian seperti radio, iPod, TV, dsb, at least untuk secara psikologis menegaskan kembali bahwa saya tidak sendirian. Beruntung pula ada teman-teman yang bisa diajak keluar malam, yang secara nyata membuat saya menjadi tidak sendirian. Terus berulang hingga menjadi kebiasaan. Kumpul-kumpul sampai pagi, bahkan tidak tidur sama sekali.

Selama malam masih berarti sendirian dan keheningan, selama itulah tidur akan selalu menjadi barang langka dan mahal bagi saya.

Ps: Didedikasikan untuk semua pejuang malam di luar sana. Selamat tidur.

*http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=penyebab-psikopatologi-insomnia.html&Itemid=314#readmore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar