Kemana perginya angka-angka yang berjejer pada lingkaran jam dinding? Waktu bagaikan pelari marathon yang berlari tanpa garis finish. Malam membisu sementara kami tetap bertanya. Apa yang sebenarnya dicari? Jika ia hanya kenikmatan sesaat, maka mengapa hanya sesaat yang tersisa?
Kemana perginya kenikmatan yang dipuja layaknya berhala? Mungkin ia sedang duduk di sebuah sudut, dalam kegelapan, dan terkikik geli. Merasa dirinya buronan kelas kakap yang dicaci namun dicari sampai mati. Lantas mengapa para manusia tak kunjung sadar bahwa ia fana? Halusinogen bermuka seribu yang sewaktu-waktu bisa menjadi perempuan idaman hati, atau teman sehidup semati.
Biar waktu yang menjawab. Kata-kata klise orang bijak. Terlampau klise hingga tak ada lagi yang bisa membedakan antara ketulusan dan kepalsuan. Semua terbungkus rapi dalam wajah tersenyum yang menyimpan banyak arti. Pertaruhan hidup dan mati untuk memilih antara terjerumus atau menjerumuskan. Sebuah rumus yang tidak dipercayai. Teracuhkan. Malang. Namun pasti.
(Catatan di sebuah pagi buta yang penuh ketidakpastian)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar