"Radio itu segmented". Kalimat yang selalu saya imani sejak awal berkecimpung di dunia ini. Pendengarnya bukan pirsawan televisi yang bisa seenak dengkul gonta-ganti. Mereka fanatik.
Silakan tonton "The Boat That Rocked". Mencengangkan bagaimana manusia dengan panca indra nya bisa didakwahi dengan sepasang indra pendengaran saja. Tidak dengan melihat, tidak dengan meraba, apalagi dakwah berdarah.
Sepanjang perjalanannya, radio pun kerap kali menjadi simbol perlawanan. Propaganda, provokasi, revolusi, sejarah mencatat kelahirannya disini.
Akan tetapi, ketika uang menjadi alasan, semua seakan terlunturkan. Tidak ada lagi propaganda, tidak ada lagi provokasi, tidak ada lagi revolusi. Semua berlomba-lomba menjadi anak baik, bermain aman, tanpa tantangan.
Pilihan yang cukup dilematis memang. Menanggalkan idealisme demi materi, atau bertahan tanpa memakani diri sendiri. Patut disayangkan, kebanyakan memilih yang pertama.
Tidak ada yang patut disalahkan, karena teori yang lahir sebelumnya memang telah berhasil mengkotak-kotakkan. Ada radio komersial, ada radio komunitas. Nama lainnya adalah si kaya dan si miskin. Si kaya siaran murni untuk mencari keuntungan, si miskin siaran murni untuk mendapatkan kepuasan.
Kembali ke film "The Boat That Rocked". Berlatarkan Inggris yang kaku di tahun 1960-an, harus berkompromi dengan radio tanpa aturan yang disiarkan dari tengah lautan. Masa dimana rock and roll disejajarkan dengan agama, tanpa norma, dan berhasil memenangkan hati umatnya; pelayan restoran, mahasiswa, bahkan hingga rumah-rumah pelacuran. Tanpa batasan usia, ras, maupun kekayaan, semua khusyuk mendengarkan.
Kita ingat lagi lokasi radio ini disiarkan. Tengah lautan, sekali lagi, tengah lautan. Namun apa yang terjadi? Tanpa peduli dimana berandal-berandal ini siaran, pengiklan berbondong-bondong menyeberang lautan.
Indonesia pernah punya Prambors di 1980 dan 1990-an. Disusul Gen FM yang lahir di pertengahan 2000-an. Keduanya kemudian menjadi trendsetter di eranya. Melahirkan radio-radio lain yang melirik-lirik dan kemudian memplagiasi, dengan atau tanpa modifikasi.
Kebetulan saya nyemplung pada era kedua. Saat radio-radio berlomba memperirit durasi bicara, tidak lagi mengedukasi musik pendengarnya, dan menggantungkan diri pada lagu-lagu overrated
semata.
Ketiganya bukan favorit saya. Namun saya mengapresiasi GEN FM atas revolusi yang mereka lakukan. Bagaimanapun, radio ini lahir cukup cacat di masanya. Durasi bicara yang paling irit dibandingkan lainnya, tanpa edukasi musik bagi pendengarnya, dan menjual lagu-lagu overrated yang diludahi pesaing-pesaingnya. Suka atau tidak, ketiga hal inilah yang menjadi daya tarik bagi ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan pasang telinga untuk duduk manis dan tidak menggonta-ganti lagi salurannya.
Semoga bualan ini bisa menjadi pembelajaran. Sukses tidak akan menghampiri yang memplagiasi, dengan atau tanpa modifikasi. Mungkin mendekati, tapi tidak akan pernah menyamai. Prambors adalah Prambors di masanya dan dengan massanya. GEN FM adalah GEN FM di masanya dan dengan massanya. Dan akan ada radio lain lagi di masanya dan dengan massanya.
Karakter kuat adalah kuncinya. Berani berbeda adalah lubang kuncinya. Dan gebrakan adalah tangan yang akan membuka.
Selasa, 15 Juni 2010
Selasa, 08 Juni 2010
Search: Etimologi Insomnia. No Results Found.
Jika kewajaran menjadi ukuran, maka seharusnya tidur dimulai pada malam hari dan berakhir pada pagi hari. Akan tetapi, bukan manusia namanya jika tidak keluar dari lingkup kewajaran. Beberapa memilih, atau mungkin terpaksa, untuk tidur pada saat pagi menjelang dan beraktivitas pada saat-saat tidur sewajarnya.
Awam dan medis menyebutnya Insomnia. Saya tentu saja salah satu penderitanya. Jika saya bukan salah satu penderita, tentu saja saya sedang di ambang tidur ketika bualan ini diterbitkan.
Mencoba untuk mengenali diri sendiri, iseng saya menjelajahi dunia maya. Mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi yang berkaitan dengan hal yang saya derita ini. Diawali dari sebuah halaman yang tampaknya memang bergenre medis, www.medicalera.com.
Kurang lebih inilah yang kemudian menjadi perhatian saya. Berikut saya kutip,
Masa kecil yang kurang lebih membiasakan saya untuk selalu berinteraksi dengan suara, sehingga hal ini terbawa selama lebih dari 21 tahun hidup saya. Bagi saya, comfort zone adalah ketika ada suara di sekitar, untuk secara psikologis menegaskan bahwa saya tidak sendirian. Semakin berisik, semakin asik.
Saya tidak suka sendirian. Saya tidak suka keheningan. Turunannya adalah, saya tidak suka malam. Karena malam berarti harus sendirian dan berada dalam keheningan. Beruntunglah ada peralatan yang menghasilkan bunyi-bunyian seperti radio, iPod, TV, dsb, at least untuk secara psikologis menegaskan kembali bahwa saya tidak sendirian. Beruntung pula ada teman-teman yang bisa diajak keluar malam, yang secara nyata membuat saya menjadi tidak sendirian. Terus berulang hingga menjadi kebiasaan. Kumpul-kumpul sampai pagi, bahkan tidak tidur sama sekali.
Selama malam masih berarti sendirian dan keheningan, selama itulah tidur akan selalu menjadi barang langka dan mahal bagi saya.
Ps: Didedikasikan untuk semua pejuang malam di luar sana. Selamat tidur.
*http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=penyebab-psikopatologi-insomnia.html&Itemid=314#readmore
Awam dan medis menyebutnya Insomnia. Saya tentu saja salah satu penderitanya. Jika saya bukan salah satu penderita, tentu saja saya sedang di ambang tidur ketika bualan ini diterbitkan.
Mencoba untuk mengenali diri sendiri, iseng saya menjelajahi dunia maya. Mengumpulkan sedikit demi sedikit informasi yang berkaitan dengan hal yang saya derita ini. Diawali dari sebuah halaman yang tampaknya memang bergenre medis, www.medicalera.com.
Kurang lebih inilah yang kemudian menjadi perhatian saya. Berikut saya kutip,
SEBAB-SEBAB INSOMNIA
Tidak semua insomnia didasari oleh adanya suatu kondisi psikopatologik. Insomnia dapat pula disebabkan karena kondisi atau penyakit fisik dan karena faktor ekstrinsik seperti suara atau
bunyi, suhu udara, tinggi suatu daerah, penggunaan bahan-bahan yang mengandung stimulansia susunan saraf pusat.
- Suara atau bunyi: biasanya orang dapat menyesuaikan dengan suara atau bunyi sehingga tidak mengganggu tidurnya. Yang penting sering bukan intensitasnya tetapi makna dan suara itu. Misalnya seorang yang takut diserang atau dirampok, pada malam hari ia terbangun berkali-kali hanya karena suara yang halus sekalipun. Bila intensitas rangsang cukup tinggi maka Arousal Promoting System akan membangunkan kita.
- ...*
Masa kecil yang kurang lebih membiasakan saya untuk selalu berinteraksi dengan suara, sehingga hal ini terbawa selama lebih dari 21 tahun hidup saya. Bagi saya, comfort zone adalah ketika ada suara di sekitar, untuk secara psikologis menegaskan bahwa saya tidak sendirian. Semakin berisik, semakin asik.
Saya tidak suka sendirian. Saya tidak suka keheningan. Turunannya adalah, saya tidak suka malam. Karena malam berarti harus sendirian dan berada dalam keheningan. Beruntunglah ada peralatan yang menghasilkan bunyi-bunyian seperti radio, iPod, TV, dsb, at least untuk secara psikologis menegaskan kembali bahwa saya tidak sendirian. Beruntung pula ada teman-teman yang bisa diajak keluar malam, yang secara nyata membuat saya menjadi tidak sendirian. Terus berulang hingga menjadi kebiasaan. Kumpul-kumpul sampai pagi, bahkan tidak tidur sama sekali.
Selama malam masih berarti sendirian dan keheningan, selama itulah tidur akan selalu menjadi barang langka dan mahal bagi saya.
Ps: Didedikasikan untuk semua pejuang malam di luar sana. Selamat tidur.
*http://www.medicalera.com/index.php?option=com_myblog&show=penyebab-psikopatologi-insomnia.html&Itemid=314#readmore
Bukan Puitis. Apalagi Romantis.
Sekedar ilustrasi. Dari seorang pembual yang langganan dimaki orang dengan kalimat yang sama. "Get a life, Dude!"
=====
Berlalu diiringi peluit sendu
Keretamu menderu
Membawaku ke minggu lalu
Memburu waktu, berkejaran dengan keretamu
Dengan peluit yang sama
Yang kala itu bersiul gembira
Dan kala ini merintihkan sangkakala
Kini hanya ada aku, gelap, dan khayalanku tentang kamu
Malam lebih lama dari biasanya!
Hujan turun tidak pada waktunya!
Keluhan yang kutujukan entah untuk siapa!
Beruntung aku dibuai aroma pagi
Wewangian peretas jalan pintas
Untuk satu rendez-vous saja
Atau setidaknya dejavu dalam metafora
=====
Ditulis beberapa bulan yang lalu. Diterbitkan untuk yang berulang tahun hari ini.
=====
Berlalu diiringi peluit sendu
Keretamu menderu
Membawaku ke minggu lalu
Memburu waktu, berkejaran dengan keretamu
Dengan peluit yang sama
Yang kala itu bersiul gembira
Dan kala ini merintihkan sangkakala
Kini hanya ada aku, gelap, dan khayalanku tentang kamu
Malam lebih lama dari biasanya!
Hujan turun tidak pada waktunya!
Keluhan yang kutujukan entah untuk siapa!
Beruntung aku dibuai aroma pagi
Wewangian peretas jalan pintas
Untuk satu rendez-vous saja
Atau setidaknya dejavu dalam metafora
=====
Ditulis beberapa bulan yang lalu. Diterbitkan untuk yang berulang tahun hari ini.
Sebuah Karya Tulis Menyebutnya Kata Pengantar
Selamat datang di dunia saya.
Ini bukan kali pertama saya blogging. Apalagi menulis. Saya bukan seorang jurnalis, bukan seseorang yang puitis, tidak pula romantis. Menulis bagi saya adalah teman kecil. Dari bermain kelereng, bolos, hingga melepas keperjakaan bersama.
Sebuah pepatah pernah memberitahu saya. "Ketika kita mulai menertawakan diri sendiri, itulah tanda kita mulai dewasa," begitu ujarnya. Itu pula yang saya alami ketika membuka kembali tulisan-tulisan saya di waktu lampau. Saya terbahak-bahak, komplikasi antara malu sendiri, sedih, senang, sekaligus kesal.
Tidak ada pilihan selain tutup buku dan membuka lembaran baru. Dan voila! Inilah lembaran baru saya. Sebuah blog yang akan merekam tingkah polah seorang anak manusia. Seorang teman lama dengan pelataran baru untuk bermain. Permainan bernama kehidupan yang jauh lebih keras daripada sekedar bermain kelereng, bolos, atau melepas keperjakaan.
Selamat datang di dunia saya!
Ini bukan kali pertama saya blogging. Apalagi menulis. Saya bukan seorang jurnalis, bukan seseorang yang puitis, tidak pula romantis. Menulis bagi saya adalah teman kecil. Dari bermain kelereng, bolos, hingga melepas keperjakaan bersama.
Sebuah pepatah pernah memberitahu saya. "Ketika kita mulai menertawakan diri sendiri, itulah tanda kita mulai dewasa," begitu ujarnya. Itu pula yang saya alami ketika membuka kembali tulisan-tulisan saya di waktu lampau. Saya terbahak-bahak, komplikasi antara malu sendiri, sedih, senang, sekaligus kesal.
Tidak ada pilihan selain tutup buku dan membuka lembaran baru. Dan voila! Inilah lembaran baru saya. Sebuah blog yang akan merekam tingkah polah seorang anak manusia. Seorang teman lama dengan pelataran baru untuk bermain. Permainan bernama kehidupan yang jauh lebih keras daripada sekedar bermain kelereng, bolos, atau melepas keperjakaan.
Selamat datang di dunia saya!
Langganan:
Komentar (Atom)